Smart farming merupakan sistem pertanian modern berbasis Internet of Things (IoT) yang memanfaatkan berbagai sensor untuk memantau kondisi lingkungan secara real-time. Pada proyek ini digunakan beberapa sensor utama yaitu sensor DHT22, sensor soil moisture, dan sensor LDR yang berfungsi untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas pertanian.
Sensor DHT22 digunakan untuk mengukur suhu dan kelembaban udara di sekitar tanaman. Data ini sangat penting karena kondisi suhu dan kelembaban yang tidak sesuai dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman secara signifikan. Dengan adanya sensor ini, petani dapat mengetahui kondisi lingkungan secara akurat dan mengambil tindakan yang tepat.
Sensor soil moisture berfungsi untuk mendeteksi tingkat kelembaban tanah. Sensor ini sangat berguna dalam sistem penyiraman otomatis, di mana pompa air akan aktif ketika tanah dalam kondisi kering dan berhenti ketika tanah sudah cukup lembab. Hal ini membantu menghemat penggunaan air dan menjaga kondisi tanah tetap optimal bagi tanaman.
Selain itu, sensor LDR (Light Dependent Resistor) digunakan untuk mendeteksi intensitas cahaya di lingkungan sekitar. Informasi ini dapat digunakan untuk mengetahui apakah tanaman mendapatkan cahaya yang cukup, atau bahkan untuk mengontrol sistem pencahayaan tambahan secara otomatis jika diperlukan.
Semua data dari sensor tersebut dikirim ke mikrokontroler seperti ESP32, kemudian ditampilkan pada sistem monitoring berbasis web. Dengan sistem ini, pengguna dapat memantau kondisi pertanian kapan saja dan di mana saja, serta mengontrol perangkat secara otomatis berdasarkan data sensor.
Dengan penerapan smart farming berbasis sensor ini, diharapkan proses pertanian menjadi lebih efisien, hemat sumber daya, dan mampu meningkatkan hasil produksi secara optimal.